Jala Samudra Institute · Publikasi

Komeng Effect dan Fenomena Artis Dalam Pemilu

https://youtu.be/PKie9Wqgh4I?si=pP2pFs92nnG33dcS

On TikTok

On Instagram

Dalam hal politik, fenomena pencalonan artis dan publik figur adalah salah satu contoh penerapan prinsip dasar dalam peperangan kognitif.

Komeng efek atau terpilihnya Komeng sebagai anggota legislatif dengan suara terbanyak dalam pemilihan legislatif kemarin adalah salah satu contoh konkret tentang bagaimana prinsip ini bekerja.

Kebanyakan dari kita tidak kenal dengan Calon Legislatif yang akan kita pilih.

So, begitu buka surat suara, dihadapkan pada surat suara yang begitu besar dengan begitu banyak calon anggota legislatif yang harus kita pilih, maka yang paling stand up dan yang paling familiar lah yang pertama bakal lolos dari screening pertama bakal calon kandidat yang akan kita pilih.

Dan semua calon pemilih pada prinsipnya berada pada Dilema Algoritma Perasaan yang sama.

Game teorinya adalah untuk seorang swing voters yang tidak peduli dengan siapa calon yang akan mereka pilih, dalam durasi waktu 30 detik di bilik suara, mereka harus menentukan siapa yang akan mereka pilih dalam durasi waktu tersebut.

Sehingga secara otomatis pilihan akan jatuh pada orang yang mereka kenal dan yang paling menarik perhatian.

Dalam permainan popular votes ini, mereka yang paling mengerti dan memahami aturan main atau rules of the game dalam permainan ini, dialah yang akan memenangkan kontestasi politik dan legislatif tersebut.

Pada dasarnya propaganda dan marketing memiliki prinsip yang sama. Keduanya sama-sama menggunakan pengulangan atau repetisi untuk menanamkan sebuah ide atau gagasan ke dalam pikiran audiens.

Ketika pesan tersebut secara terus-menerus disampaikan, audiens akan cenderung lebih menerima dan mempercayainya sebagai sebuah pilihan yang benar.

Propaganda sering digunakan dalam konteks politik dan sosial untuk mempengaruhi opini publik. Pesan-pesan propaganda dirancang untuk membentuk persepsi dan memanipulasi emosi masyarakat, agar mendukung atau menolak ide tertentu.

Begitu juga dalam marketing, pesan iklan yang terus-menerus ditampilkan akan membuat konsumen lebih familiar dengan suatu produk atau brand tertentu.

Ini adalah tentang menanamkan ide ke dalam lapisan bawah sadar kita.

Pernahkah berpikir kenapa pilihan Anda jatuh pada satu produk tertentu? Pilihan rokok Anda? Mie instan Anda? Deterjen Anda? Familiaritas adalah kuncinya. Familiaritas membuat kita cenderung memilih produk yang sudah sering kita lihat atau dengar.

Pengulangan pesan yang terus-menerus menjadikan produk tersebut terasa lebih akrab dan dipercaya.

So.., Siapkah kalian untuk terjun ke dalam dunia politik dan propaganda, marketing product, dan marketing politik? Kalau Komeng sih siap. Dia jenius. Tapi yang lain?

Yuk kita pantaskan diri kita masing-masing.

Jala Samudera Institute. Asymmetric Warfare Department. Indonesia's Political Overview. Peace.


Lihat publikasi asli di WordPress

← Kembali ke arsip publikasi