Menjadi diktator tentu adalah sebuah impian bagi setiap pemimpin dunia. Seorang pemimpin bisa jadi mencitrakan dirinya sebagai seorang yg demokratis, moderat, dan siap menerima kritik.
Akan tetapi benarkah demikian, manakala kini banyak orang telah mulai menyadari bahwa makna pe-an pada imbuhan kata “pencitraan” juga bermakna sesuatu yang bukan sesungguhnya, semu, dan juga maya.
Dan ketika orang juga mulai sedikit bernafas lega dengan kebebasan berekspresi dan berpendapat di dunia maya, fenomena “The Rise of Keyboard Warrior” nampaknya terlalu sayang untuk dikesampingkan begitu saja.
Banyak opsi yang bisa dilakukan untuk menjadi seorang diktator yang murah senyum dan santun seperti layaknya seorang gentleman dengan berbagai kemudahan yang tersedia saat ini:
1) Ketergantungan masyarakat yang begitu besar terhadap internet yang berimbas pada menurunnya kemampuan dan daya analisis kritis terhadap jarak persepsi antara nyata dan maya. Anda bisa saja nampak populer di dunia maya, meskipun kenyataannya, Anda sendirian tanpa teman di dunia nyata. Ada jarak hati di sana.
2) Bercampurnya realitas kehidupan dunia maya dan nyata, telah berimbas pada amplifikasi berlebihan dari realitas di dunia maya dibanding kenyataan yang sesungguhnya. Anda bisa menjadi seorang milyuner dadakan, philanthropist, dan tidak terkecuali, seorang pemimpin bijaksana yang menjadi idaman banyak orang.
Kita tidak akan pernah tahu apa yang ada dalam benak hati dan pikiran seseorang. Tetapi setidaknya Tuhan memberi gambaran, tentang bagaimana kita harus bersikap.
"If he says he is lying, if he promises he breaks it, if he is trusted he betrays."
Itulah tiga peringatan yang Tuhan hadiahkan kepada kita sebagai pengingat dan bekal dalam mengarungi era ilusi digital ini.
3) Penguasaan informasi dan penaklukan dunia maya melalui dukungan Keyboard Warrior yang siap menghantam saran dan kritik membangun yang dapat mengganggu eksistensi dan marwah sang penyelenggara negara, jauh lebih mudah dilakukan daripada sosialisasi tanpa henti dengan jutaan kepentingan yang sudah pasti akan menghalangi cita-cita dan juga jalan diktator anda. Cukup tutup mulut mereka di dunia maya maka sisanya akan mengikuti, Cebong Kadrun dan Kampret siap bekerja.
The keyboard warrior own the cyber space, and they’re easily multiplied, and one who control the information own the right to dictate and control the world.
Keyboard Warrior menguasai ruang siber, dan mereka mudah berkembang biak, dan siapa yang mengendalikan informasi dialah yang akan memegang kendali dan hak atas diktasi yang akan mengendalikan dunia.
So, what are you waiting for?
Cyber Mercenaries?
Keyboard Warriors?
Dengan demikian, setidaknya kita masih bisa tersenyum ramah dan menjaga “make up” kita agar terlihat tetap cantik dan menarik dihadapan publik sehabis menghajar beberapa opini liar yang dapat menjegal cita-cita kita menjadi diktator.
Meskipun.., juga harus kita sadari bahwa secantik apapun hasil make up yang kita buat, tampilan tersebut tetaplah make up, dan bukanlah citra diri dari pribadi kita yang sebenarnya.
Sebagaimana pepatah yang selalu mengingatkan tentang kesejatian, orang pertama yang menjadi korban dari pencitraan tersebut adalah diri mereka sendiri. Oleh karena mereka hidup dan tenggelam dalam ilusi yang mereka ciptakan. Adapun korban terbesar dari strategi ini adalah kecerdasan masyarakat Indonesia, yang dipaksa harus mengikuti Alur berpikir para Centeng dan Tukang Pukul di dunia maya.
Karena sebaik apapun seseorang ataupun saran yang disampaikan, orang dan saran tersebut akan tenggelam dalam 10 komentar keyboard warrior, yang saling berkoordinasi untuk menjegal dan menenggelamkan opini orang tersebut.
Indonesia akan kehilangan sifat Keperwiraan dan Keksatriaannya, untuk Mengakui, Mengkoreksi, dan Belajar dari kesalahan yang telah dilakukan. Tak ada lagi revisi. Tak ada lagi evaluasi. Yang ada hanyalah narasi. Secara tidak kesatria mempertahankan opininya, Bahwa kesalahan yang dilakukan bukanlah sebuah kesalahan.
wal-‘ashr innal-insâna lafî khusr, illalladzîna âmanû wa ‘amilush-shâliḫâti wa tawâshau bil-ḫaqqi wa tawâshau bish-shabr.
Demi masa sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.
Sing paling wani adu wirang, kui sing menang, atau ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti, yang paling berani tak tahu malu, itulah yang menang.
Asymmetric Warfare, Peperangan Asimetris, Social Engineering. Peace.
#AduDomba #Akademik #AsymmetricWarfare #CyberMercenary #CyberSpace #DevideEtImpera #Diktator #DiktatorMurahSenyum #DiktatorSantun #DivideAndConquer #DuniaMaya #Edukasi #IlmuPertahanan #Ilusi #KeyboardWarrior #Peace #Pencitraan #PeperanganAsimetris #RekayasaSosial #RuangSiber #SmilingDictator #SocialEngineering #SosialMedia