Jala Samudra Institute · Publikasi

Balance of Power Theory, Perangkap Thucydides, dan Jasa Bung Karno yang Terlupakan

https://youtu.be/H48rjLLUjco?si=Jtuor-vMScMsf04g

On TikTok

On Instagram

Teori Keseimbangan Kekuatan (Balance of Power Theory) adalah konsep yang fundamental dalam hubungan internasional, yang berusaha untuk menjelaskan bagaimana negara-negara menjaga stabilitas dan menghindari dominasi oleh kekuatan tunggal.

Namun di sisi lain, seorang pemikir dari Harvard University, Amerika, yang juga menjabat sebagai Asisten Menteri Pertahanan di bawah Presiden Bill Clinton, professor Graham Allison, mengidentifikasi sebuah skenario yang disebutnya sebagai Perangkap Thucydides, sebuah teori yang diramu dari karya sejarawan Yunani kuno Thucydides, yang menulis mengenai Sejarah Perang Peloponnesia.

Sejarawan dan politikus Yunani abad ke-5 SM tersebut menulis tentang kisah Perang Peloponnesia yang sangat terkenal.

Dalam konflik yang berlangsung selama hampir 30 tahun yang mengguncang negara-kota Yunani tersebut, Thucydides mengamati Sparta sebagai sebuah hegemon, atau kekuatan dominan, di Laut Aegea. Akan tetapi, Athena tumbuh begitu cepat sehingga Sparta menjadi takut. Mereka khawatir bahwa Athena akan segera menjadi ancaman nyata bagi kekuatan mereka, sehingga mereka menyerang terlebih dahulu. Dan itulah perangkapnya.

Ambisi Athena dan ketakutan Sparta akan kehilangan kekuasaan menyeret keduanya ke dalam konflik, bahkan ketika tidak ada yang menduganya. Ketika Sparta menyerang Athena, hal itu memaksa negara-kota Yunani lainnya untuk memilih satu pihak, dan perang Yunani besar-besaran pun terjadi yang berlangsung selama beberapa dekade. Thucydides kemudian menulis bahwa seluruh Perang Peloponnesos disebabkan oleh ''pertumbuhan kekuatan Athena, dan kekhawatiran yang ditimbulkannya di Sparta.'’

Dalam bukunya di tahun 2017 yang berjudul: “Ditakdirkan untuk Perang: Dapatkah Amerika dan Tiongkok Melepaskan Diri dari Perangkap Thucydides?”, Graham Allison menjelaskan tentang bagaimana persaingan antara kekuatan dominan yang telah ada dengan kekuatan yang sedang naik bisa memicu konflik.

Ia menjelaskan bahwa ketika kekuatan yang sedang naik daun menantang dominasi kekuatan mapan yang sebelumnya telah ada, kekuatan dominan tersebut cenderung untuk merespons dengan kekerasan.

Graham Allison berpendapat bahwa, Perangkap Thucydides merupakan salah satu kesalahan penilaian terbesar dalam sejarah karena:

Banyak negara gagal memahami bahwa peningkatan kekuatan satu negara dapat memicu ketakutan dan reaksi dari negara dominan yang sering kali berujung pada peperangan.

Ini merujuk pada negara-negara yang tengah berkembang pesat dan menjadi jauh lebih kuat dan berpengaruh di kancah global seperti halnya Tiongkok pada saat sekarang ini.

Negara-negara yang sudah kuat dan dominan seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat mulai melihat negara yang sedang berkembang tersebut sebagai ancaman terhadap kekuasaan dan pengaruh mereka.

Ketakutan negara dominan terhadap ancaman dari negara yang berkembang pesat ini sering kali menyebabkan mereka merespons dengan tindakan militer atau peperangan untuk mempertahankan kekuasaan dan pengaruh mereka.

Ketika memaparkan teori ini pada tahun 2015, Graham Allison mengungkapkan bahwa tim peneliti di Belfer Center yang berafiliasi dengan Harvard mengidentifikasi 16 kasus selama 500 tahun terakhir yang mencerminkan contoh Sparta/Athena tentang kekuatan yang semakin besar yang mengancam kekuatan yang dominan yang telah ada sebelumnya. Dari ke-16 kasus tersebut, 12 di antaranya berujung pada peperangan.

Di sisi yang lain lagi, terdapat satu titik di dalam koordinat sejarah dunia yang sering kali luput dari pengamatan sejarawan Barat, yaitu tentang bagaimana dunia pernah berhasil terlepas dari jerat Perangkap Thucydides tersebut di era masa Perang Dingin.

Bung Karno, Presiden pertama Indonesia, dengan diplomasi bebas aktifnya di masa Perang Dingin, secara elok memainkan peran penting dalam menerapkan teori-teori ini dalam kebijakan luar negerinya, memberikan dunia pilihan ke-3 dari 2 opsi yang jelas-jelas akan mengarah kepada Perangkap Thucydides yang akan menghancurkan dunia.

Bersama Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, Presiden Ghana Kwame Nkrumah, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, dan Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito, Bung Karno menciptakan suatu keseimbangan kekuatan yang baru yang menggeser arah trajektori dari ujung persaingan dua blok yang tercipta saat itu, yaitu Barat dan Timur, sehingga tercipta keseimbangan kekuatan baru yang kini dikenal dengan sebutan Gerakan Non Blok, yang menjauhkan dunia dari Perangkap Thucydides yang akan membawa dunia pada kehancuran (Perang Dunia III dan Perang Nuklir).

Dengan Keseimbangan Kekuatan dan Kebijakan Politik Luar Negerinya, Bung Karno menunjukkan bahwa ia sangat memahami esensi pentingnya keseimbangan kekuatan dalam politik internasional. Dalam konteks Perang Dingin, Bung Karno menavigasi hubungan perseteruan antara Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet tidak hanya untuk kepentingan nasional Indonesia semata, tetapi juga untuk memajukan perdamaian dunia sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945.

Gerakan Non-Blok adalah salah satu kontribusi terbesar Bung Karno dalam politik internasional. Melalui Gerakan Non-Blok (NAM), Bung Karno menciptakan Blok Ketiga yang Netral namun Aktif dalam Mendorong Perdamaian Dunia di Era Perang Dingin. Ini dapat dikatakan sebagai Exit Road bagi negara-negara yang tidak ingin terjebak dalam dualisme persaingan antara Timur dan Barat, sehingga menciptakan keseimbangan kekuatan baru yang tidak terikat pada dominasi AS atau Uni Soviet. Sebuah Trias Politica yang membawa kepada keseimbangan kekuatan yang lebih stabil bagi perdamaian dunia. Sebuah Exit Road dari Perangkap Thucydides yang dinantikan tidak hanya oleh negara-negara anggota NAM saja pada waktu itu, melainkan juga oleh kedua belah blok yang ketika itu telah lelah berperang pasca Perang Dunia II, dan hampir saja terjebak pada kehancuran bersama (mutual destruction) dalam perlombaan senjata nuklir diantara keduanya. Itulah kenapa kedatangan Bung Karno sangat dinantikan dan selalu disambut baik oleh kedua belah pihak yang tengah berseteru saat itu, baik di Barat maupun di Timur.

Analisis dan Kesimpulan

Interseksi Konsep:

Teori keseimbangan kekuatan dan perangkap Thucydides memberikan kerangka kerja yang sangat baik guna memahami kebijakan politik luar negeri Bung Karno. Bung Karno berhasil menerapkan strategi keseimbangan kekuatan guna menghindari dominasi Blok Barat maupun Blok Timur, untuk memajukan tidak hanya bagi kepentingan nasional Indonesia semata tetapi juga perdamaian dunia sebagaimana cita-cita bangsa Indonesia yang tertuang dalam UUD 1945.

Relevansi Masa Kini:

Pelajaran dari kebijakan luar negeri Bung Karno dan konsep keseimbangan kekuatan tetap relevan hingga hari ini. Dalam dunia yang terus berubah dengan dinamika kekuatan global yang kompleks, memahami cara menjaga keseimbangan kekuatan adalah kunci untuk stabilitas dan perdamaian internasional.

Catatan Akhir:

Bung Karno adalah contoh nyata dari pemimpin yang memahami dan menerapkan teori keseimbangan kekuatan dalam kebijakan luar negerinya. Dengan mempelajari sejarah dan strategi beliau, kita dapat mengambil pelajaran berharga tentang bagaimana cara menghadapi tantangan dalam politik internasional kontemporer saat ini.

Sumbangsih Bagi Teori Keseimbangan Kekuatan:

Teori Keseimbangan Kekuatan atau Balance of Power Theory adalah sebuah proses dinamis perubahan keseimbangan kekuatan atau dinamika keseimbangan kekuatan yang muncul dari proses adaptasi naluri dasar negara-negara untuk bertahan hidup, mempertahankan diri, eksistensi, dan kepentingannya di dalam anarki internasional. Proses ini terikat pada hukum survival of the fittest guna menghindari ancaman eksistensial seperti hilangnya bangsa-bangsa dan atau negara sebelum ini, sebagaimana tercatat dalam sejarah dengan hilangnya Kekaisaran Ottoman Turki dan Uni Soviet. Dari sini, setidaknya kita tahu bahwa dunia berhutang besar pada sosok Bung Karno dan keempat pemimpin dunia lainnya, yang telah menjauhkan dunia dari Perangkap Thucydides, dan menyelamatkan dunia dari kehancuran akibat persaingan kontestasi hegemoni penguasaan dunia.

#BalanceOfPower #ThucydidesTrap #BungKarno #GrahamAllison #HubunganInternasional #Diplomasi #PerangDingin #GerakanNonBlok #StabilitasGlobal #PerdamaianDunia #PolitikLuarNegeri #SejarahDunia #KeseimbanganKekuatan #Indonesia #GamalAbdelNasser #KwameNkrumah #JawaharlalNehru #JosipBrozTito #PerangDuniaIII #PerangNuklir #NAM #ColdWar #WorldPeace #InternationalRelations #GlobalStability #ThirdWorld #Neutrality #HistoricalFigures #Geopolitics #GlobalConflict #SurvivaloftheFittest #OttomanEmpire #SovietUnion #Amerika #Tiongkok

 


Lihat publikasi asli di WordPress

← Kembali ke arsip publikasi