Terbentuknya pakta keamanan Aukus di kawasan Indo-Pasifik adalah merupakan sebuah babak baru di dalam dinamika lingkungan strategis di kawasan Indo-Pasifik.
Didasari atas pertimbangan pertahanan dan keamanan karena adanya modernisasi dan agresivitas Tiongkok yang membuat lingkungan strategis Australia memburuk sebagaimana tertuang dalam dokumen 2020 Australia Defence Strategic Update, Australia, bersama Britania Raya (UK), dan Amerika Serikat (US), pada 15 September 2021, mendirikan pakta keamanan trilateral yang kini dikenal sebagai Aukus.
Dengan adanya pakta keamanan Aukus tersebut, Australia dapat memperkuat pertahanan dan keamanannya melalui: 1) Asistansi Penguasaan Kapal Selam Bertenaga Nuklir; Kemitraan dan Kerjasama di Bidang: 2) Mekanisme Siber Canggih; 3) Kecerdasan Buatan dan Otonomi; 4) Teknologi Kuantum; 5) Peningkatan Kemampuan Bawah Laut; 6) Perang Hipersonik & Kontra-Hipersonik; 7) Peperangan Elektronik; serta 8) Inovasi dan Pertukaran Informasi.
Berbicara mengenai Aukus dan dampak yang ditimbulkan oleh kesepakatan tersebut tentu saja tidak bisa terlepas dari Tiongkok dan Malacca Dilemma. Sebuah istilah yang digunakan oleh Presiden Tiongkok Hu Jintao di tahun 2003 untuk mendeskripsikan ketergantungan Tiongkok yang sangat tinggi atas Selat Malaka.
70% ekspor minyak bumi dan LNG RRT dikirim melalui Selat Malaka, sehingga dari sudut pandang kebijakan keamanan energi Tiongkok Selat Malaka sangat penting. Selain itu, Center for Strategic and International Studies (CSIS) mencatat, 20% perdagangan maritim global dan 60% arus perdagangan Tiongkok dilakukan melalui Selat Malaka dan Laut Cina Selatan, menjadikannya Sea Lines Of Communication (SLOC: istilah yang menggambarkan jalur maritim utama antar pelabuhan, yang digunakan untuk perdagangan, logistik, dan angkatan laut) terpenting bagi negara-negara di dunia dan terlebih lagi Tiongkok.
Didorong keadaan Malacca Dilemma serta kekuatan ekonomi yang sanggup menopang kebijakan politik, diplomasi, dan militernya, Tiongkok mengambil langkah menegaskan klaim Nine Dash Line mereka yang selama ini dorman (sejak 1952), menantang hegemoni Amerika (Armada ke-7) di Indo-Pasifik, yang berujung pada respon pembentukan pakta keamanan Aukus.
Hal ini tentu saja berdampak pada stabilitas kawasan Indo-Pasifik, terutama ASEAN yang wilayah lautnya berbatasan langsung dan berada di tengah-tengah di antara dua kekuatan besar tersebut.Keprihatinan dan kepedulian negara-negara ASEAN atas perkembangan situasi dan keadaan yang terjadi saat ini akibat kontestasi persaingan dua kekuatan besar di kawasan Indo-Pasifik terutama ASEAN.
Dalam menghadapi permasalahan ini, negara-negara ASEAN yang terjepit di antara kedua kekuatan tersebut, perlu mempertimbangkan dengan cermat kebijakan luar negeri dan pertahanan mereka. Keterlibatan militer, dapat menjadi aspek penting dari strategi dan kebijakan pertahanan negara, yang dapat menjadi penyeimbang di tengah persaingan dua kekuatan AS (Aukus) dan China, sehingga dapat mengembalikan keseimbangan dan stabilitas kawasan sebagaimana diharapkan (stabilitas yang memakmurkan).
#Aukus #Tiongkok #China #Asean #IndoPasifik #IndoPacific #IndoPasific #SouthChinaSea #SouthEastAsia #Indonesia #Malaysia #Thailand #Philippines #Vietnam #BruneiDarussalam #AMF #Peace #Security #Prosperity #BalanceOfPower #KebijakanPertahanan #DiplomasiPertahanan #Diplomacy #DefenseDiplomacy #Diplomasi #ColdWar #Neutrality #PaktaKeamanan #SecurityBlock #PaktaPertahanan #SecurityPact #AxisOfPower #AksisKekuatan #DiplomasiPertahanan #Stability #NonBlock #Unclos #Maritim #Maritime #Konflik #ZEE #EEZ